Senin, 17 November 2008

KTT G-20


SBY Hanya Bisa Titip Foto Obama

WASHINGTON� Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) akhirnya gagal berkomunikasi dengan Presiden terpilih Amerika Serikat (AS), Barack Hussein Obama. Untuk itu SBY menitipkan foto Obama masa kecil dan anak-anak SDN 01 Menteng�agar diserahkan pada Senator Illinois tersebut. SBY menitipkannya kepada Dubes RI di Washington DC.

Dalam konferensi pers di Hotel Ritz Carlton, Washington, AS, Ahad (16/11) pagi WIB, Presiden SBY mengatakan, komunikasi dengan Obama masih belum terlaksana hingga saat ini sebab antara SBY dengan Obama masih belum memiliki waktu yang cocok.

�Sempat ada kontak dengan timnya, tapi saya masih dalam perjalanan dari Jakarta menuju Washington. Tapi tim sampai sekarang masih terus bekerja,� kata SBY. Karena itu SBY menitipkan amanah foto itu kepada Dubes RI Sudjadnan Parnohadiningrat. Selanjutnya tim Kedubes yang akan menyerahkan foto tersebut ke Obama.

Sebelumnya, Jumat (14/11) saat bertemu komunitas Usindo, SBY bercerita bahwa dirinya dititipi foto Obama dan anak-anak SDN 01 Menteng saat akan berangkat ke Washington. Teman-teman lama Obama di Jakarta itu meminta tolong kepada SBY agar menyerahkan foto tersebut kepada Obama.

SBY berharap foto Obama itu benar-benar sampai ke tangan yang bersangkutan. �Agar memori Obama tumbuh kembali kalau pernah tinggal di Indonesia. Kita harapkan nantinya kerja sama pemerintah Indonesia dengan pemerintah Obama bisa lebih erat,� katanya.

Komitmen Kuat

Konferensi pers itu sendiri untuk menjelaskan hasil KTT G-20. Menurut SBY, komitmen negara-negara G-20 untuk mengatasi krisis global cukup kuat. Namun Indonesia tidak bisa berharap lebih karena hal itu menyangkut komunitas yang sangat besar.

Kuatnya komitmen para pemimpin yang hadir dalam forum G-20 terutama karena isu yang dibahas sangat penting untuk dikelola bersama. �Semua membicarakan apa yang harus dilaksanakan segera pada jangka yang sangat pendek, termasuk timeline yang diharapkan menyelesaikan masalah ini,� katanya.

Karena itu, Presiden menilai pertemuan puncak G-20 memiliki manfaat nyata untuk menginisiasikan satu kerja sama global dalam mengatasi permasalahan dunia. Namun semua memiliki keterbatasan. �Sekali lagi, tolong dipahami, ada kemampuan dan batas kemampuan dari sebuah komunitas yang besar untuk mengatasi masalah-masalah yang kita hadapi. Tapi, paduan dari upaya nasional, regional, dan global, tentu jauh lebih baik daripada masing-masing negara mengatasi masalah sendiri-sendiri,� ujarnya.

Menurut Presiden SBY, hasil pertemuan KTT G-20 tidak boleh dilihat dari deklarasi semata. �Summit ini menghasilkan satu komitmen dan actions to be taken oleh komunitas global. Yang lain, tentunya, apa yang dilakukan oleh komunitas global setelah summit ini, yang akan kita lihat secara bersama,� kata Presiden SBY didampingi Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda, Menteri Sekretaris Negara Hatta Radjasa, Ketua DPD-RI Ginandjar Kartasasmita, serta dua Jubir Presiden Andi A. Mallarangeng dan Dino Patti Djalal.

Usai mengikuti KTT G-20, Presiden melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden Bank Dunia Robert Zoellick dan Perdana Menteri Australia Kevin Rudd secara terpisah. Kedua pertemuan bilateral tersebut dilaksanakan di Ruang Washington, Hotel Ritz Carlton, Ahad pagi.

Presiden SBY menggunakan kesempatan tersebut untuk menggalang kerja sama di masa depan. �Partnership, kerjasama, apa yang bisa dilakukan oleh Indonesia dengan mereka,� kata SBY.

Pertemuan tersebut juga berkaitan dengan usaha pemerintah Indonesia untuk menjaga kestabilan pembangunan Indonesia. �Menjaga APBN, menjaga kemampuan expenditure, menjaga tujuan-tujuan pembangunan agar bisa dicapai,� katanya.

Masing-masing pertemuan berlangsung selama kurang lebih satu jam. Dalam pertemuan bilateral dengan Zoelick dan PM Kevin Rudd, Presiden didampingi Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda, Menteri Sekretaris Negara Hatta Radjasa, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, serta Juru Bicara Presiden Dino Patti Djalal.

Setelah tiga hari mengadakan kunjungan kerja di Washington, SBY didampingi Ibu Negara Hj Ani Yudhoyono dan rombongan meninggalkan Amerika Serikat. Pesawat Kepresidenan Airbus A330-341 yang membawa Presiden dan rombongan lepas landas dari Andrews Air Force Base, Maryland, Ahad sekitar pukul 09.00 waktu setempat atau 21.00 WIB menuju Meksiko.

Di landasan udara milik angkatan udara AS itu, Presiden dilepas oleh Dubes Indonesia untuk AS Sudjadnan Parnohadiningrat dan Wing Commander atau komandan Andrews Air Forse Base. Suhu udara cukup dingin, sekitar 5 derajat Celsius. (stn/det)

Tidak ada komentar: